Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Jurnalistik

Lead Menuding Langsung (Direct Address Lead)

Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut dengan lead menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini adalah ditemukannya kata Anda yang disisipkan pada paragraf pertama atau paragraf lain. Keuntungannya jelas. Pembaca tidak suka rela menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu. Misalkan seorang reporter mangkal di kantor imigrasi, dan menemukan kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah. Ia mungkin membuat lead seperti ini: Bila Anda punya nama 'kosian', harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tidak boleh keluar negeri (Tempo, 30 Januari 1993 Gara-gara Nama Sama). Lead seperti itu melibatkan pembaca secara pribadi, rasa ingin tahu mereka sebagai manusia disinggung, jangan-jangan namanya atau nama keluarga dekatnya tergolong nama kodian. Contoh lainnya. Lead ini secara langsung menyeret pembaca kedalam persoalan dan membawanya membaca tulisan secara keseluruhan. Bila harus me...

Lead Bertanya (Question Lead)

Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Sering lead ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan lead imajinatif. Lead ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik. Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan lead ini tahu bahwa ada pembaca yang sudah tahu jawabannya, ada yang belum. Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini ialah rasa ingin tahu pembaca, yang belum tahu mestinya terus ingin membacanya, sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi dari wartawan. Banyak editor enggan memakai lead ini karena pembaca sering dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya lead naratif atau deskriptif lebih disukai. Meskipun demikian, tidak berarti lead bertanya lebih rendah mutunya dari pada yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi lead bertanya secara wajar. Seorang wartawan Sekretariat Negara, yang menulis feature tentang kenaikan gaji pejabat tinggi, ...

Lead Kutipan (Quotation Lead))

Kutipan dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara. Kekuatan lead kutipan atau quotation adalah penegasan terhadap sesuatu atau objek berita. Umumnya, lead kutipan digunakan ketika sebuah peristiwa atau objek berita berada pada pusaran kontroversi yang kuat. Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita Anda, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu, Contoh. "Tangkap hidup atau mati" Kutipan keras itu diucakan Kapolri Letnam Jendral Banurusman. Pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu. Kerugian lead semacam ini adalah bahwa kutipan yang dipilih bisa keluar dari isi cerita, bila tekanan pokok diletakkan kepada kutipan itu saja. Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan kota J...

Lead Deskriptif (Descriptive Lead)

Lead Deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi. Lead Naratif meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deksriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya, dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya. Pemakaian ajektif kata sifat yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya hidup, Seolah-olah muncul di tengah barang cetakan yang dipegang pembaca. Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling menyolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan. Wajah syaiful rozi bin kahar sama sekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. ia berpembawaan halus, Sopan, dan ramah (TEMPO,28 Agustus 1993, Perompak Yang Halus Dan Ramah) Untuk kebanyakan pembaca, lead itu mendebarkan. pembaca s...

Lead Bercerita (Narrative Lead)

Lead ini, yang digemari penulis fiksi (novel atau cerita pendek), menarik pembaca dan membenamkannya. Tekniknya adalah menciptakan suasana dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat kekosongan yang kemudian secara mental akan diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri ditengah kejadian. Hasilnya berupa teknik seperti yang dibuat dalam film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan Film kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk menyaksikan film horor? lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalkan, seorang wartawan melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina, yang sedang dilanda perang saudara. Kami makan anggur kematian dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istirnya belum lama tewas oleh bom orang serbia. Ini...

Lead Ringkasan (Summary Lead)

Seperti pada tulisan sebelumnya Mengail, Dengan Lead  dan ini pembagian dari lead yang telah dijelaskan. Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan berita keras . Yang ditulis hanya inti ceritanya, kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat mengikuti kelanjutannya. Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang akan laku dengan sendirinya. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya bila diuber deadline, atau bila ia bingung untuk mencari lead yang baik. Contohnya: Ini kasus peninggalan bekas Gubernur DKI, Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (Tempo, 30 Januari 1993, Komisi di Jatinegara). Ada tiga orang dirumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (Tempo, 1 Januari 1994, Two in One Versi Tuban). Dari setiap contoh jelas, bahwa yang akan diceritakan dalam cerita itu sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu, setelah memb...

Mengail, Dengan Lead

Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead . Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. Setiap wartawan selalu sadar akan perlunya lead . Keranjang sampah penuh dengan lead tidak bermutu, karena wartawan memakai lead  yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca. Lead  untuk feature mempunyai dua tujuan utama. Menarik pembaca untuk mengikuti cerita. Membuka jalan bagi alur cerita. Banyak pilihan lead sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Dan masih ada yang lain, yaitu lead untuk memberitahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas. Wartawan jarang menyadari, termasuk lead  yang bagaimana yang dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead , tampaknya perlu diketahui berbagai lead . Selanjutnya : Lead Ringkasan (Summary Lead) Seandainya Saya Wartawan...

Menangkap Kesalahan

Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya, maupun pemakaian kata, memang ada satu cara, yakni membaca dan membaca naskah tersebut. Mereka yang dikarunai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat kesalahan. Tapi wartawan lain perlu membaca dan membuka kamus berkali-kali untuk mengecek pekerjaanya. Berikut ini salah satu cara mencari keselahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis. Jangan mengecek ejaan atau pemakaian kata pada saat menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman ditengah proses menulis akan menghambat kelancaran kreativitas dan memakan waktu. Tapi, segera setelah cerita selesai, perhatikan naskah Anda, kata demi kata. Perhatikanlah setiap kata seolah-olah musuh Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkin salah, walau sekecil apapun, ceklah kata itu sampai Anda yakin bahwa itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya. Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Serin...

Pemakaian Buku Pedoman

Untuk mempertahankan profesionalisme, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan.  Baik reporter, penulis, maupun redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk mendapatkan keseragaman. Ada beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang pembaca akan mengambil kesimpulan salah, bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata persen, prosen, atau %. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber deadline , keraguan bisa berakibat mahal. Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal yang akan mengurangi citra profesionalisme Anda. Selanjutnya : Menangkap Kesalah...

Pengejaan Dan Pemakaian Kata

Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila kau tidak sengaja mengeja dengan tepat atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, sebaiknya kau tidak masuk dalam percaturan surat kabar. Teguran ini diucapkan seorang editor yang marah karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran itu dan, sejak saat itu, memakai kamus secara serius. Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah satu keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan. Tidak banyak reporter yang bisa gampang ingat ejaan, memang. Tapi, kebanyakan kita tentu bisa membaca kamus. Dan sekedar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika diuber deadline . Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab menyaring kesalahan pada naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu...

Mengumpulkan Informasi Yang Tepat

Mengapa kita harus akurat? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Tapi, jawaban yang paling tepat adalah karena jurnalisme, diantara sekian banyak definisinya, merupakan sejarah yang ditulis hari ini . Apa yang Anda tulis hari ini, dalam beberapa hari ke depan sudah menjadi sejarah  dan beberapa tahun ke muka sudah dijadikan rujukan oleh sejumlah orang. Kesalahan Anda dalam akurasi, dengan demikian, akan menyesatkan sejumlah orang yang menjadikan tulisan Anda sabagai rujukan. Karena itulah sering dikatakan, akurasi adalah mahkota profesionalisme seorang wartawan. Ketidak akuratan dalam penerbitan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita. Seorang wartawan kawakan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta. Bila Anda mewawancari seseorang, tanyakan namanya, umurnya, alama...

Akurat, Mahkota Profesi

Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata dan kalimat menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature. Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar etika dan bahaya yang bakal mengancam. Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi misalnya cerita pendek. Feature tidak boleh berupa fiksi dan setiap pewarnaan  fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan pembaca akan hancur. Ada beberapa derajat kefiktifan  yang paling mencolok ialah bila seorang membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikinan. Untunglah tidak banya...

Modal Penting Dalam Menulis

Dalam menulis berita, yang diutamakan ialah pengaturan fakta. Tapi, dalam menulis feature, Anda dapat menggunakan teknik mengisahkan sebuah cerita. Itulah perbedaan pokok antara berita keras dan tulisan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah atau seorang yang bertutur. Karena itu, untuk para penulis feature, agaknya bisa diingat pesan yang berbunyi write as you talk menulislah seperti halnya Anda sedang bertutur . Itu pula sebabnya, untuk feature sering digunakan istilah jurnalisme bertutur. Seorang penulis feature bagaikan empu yang melukis dengan kata-kata. Ia menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasi diri dengan tokoh utama. Penulisan feature sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. Stru...

Panjang Tulisan

Bila seorang reporter bertanya berapa panjang seharusnya ia menulis feature, editor mungkin menjawabnya Sepanjang Anda menganggapnya masih menarik . Panjang tulisan feature bervariasi dari dua atau tiga alinea sampai 15 atau 20 lembar, ketik dengan spasi (dihitung dengan komputer, antara 500 dan 50.000 karakter). Minat pembacalah yang harus jadi patokan. Walaupun tidak ada batasan tegas tentang panjang tulisan, bukan berarti Anda boleh menulis asal-asalan. Seorang penulis feature yang baik selalu sadar dengan asal-asalan justru akan mengurangi kekuatan sebuah tulisan feature. Pembaca, dengan kesempatan membaca yang makin singkat oleh bertambah kompleksnya jadwal kegiatan sehari-hari, akan dengan mudah meninggalkan sebuah tulisan feature yang dianggapnya nyinyir dan berlebihan. Selanjutnya : Modal Penting Dalam Menulis

Awet

Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk pembungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali punah  tapi feature bisa disimpan berhari-hari, berminggu atau berbulan-bulan. Koran-koran kecil sering menyimpan naskah yang tidak selalu menyajikan berita keras hardnews dan yang disimpan itu kebanyakan feature. Redaksi tahu nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu. Banyak wartawan kawakan yang menyimpan daftar ide feature untuk hari-hari yang miskin berita hangat. Dengan feature yang matang siap di tangan, ia bisa meyakinkan editornya bahwa ia selalu produktif. Beberapa wartawan bahkan sudah melengkapi ide featurenya dengan riset, hingga ia bisa segera menuliskannya bila diperlukan mendadak. Dari kacamata wartawan, feature mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline longgar, sehingga ia punya waktu cukup untuk melakukan riset secara cermat, dan menuliskannya kembali secara lebih bagus dan lebih meyak...

Menghibur

Paling tidak dalam 40 tahun terakhir, feature menjadi alat penting bagi surat kabar untuk bersaing dengan media elektronik. Wartawan surat kabar mengakui, mereka tidak akan bisa mengalahkan wartawan radio dan televisi dalam hal kecepatan penyampaian berita ke masyarakat. Wartawan radio dan tv bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah sesuatu terjadi. Sedangkan wartawan koran harus bersabar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian pembacanya baru tahu mengenai suatu peristiwa. Tapi wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya radio dan tv, dengan cerita eksklusif. Ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) mengenai sebuah ceita yang disiarkan radio. Dengan patokan seperti itu dalam benaknya. Ia selalu mencari peluang feature dalam berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, hingga sulit dikalahkan oleh radio dan tv juga koran lain. Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin, pembunu...

Informatif

Feature yang kurang nilai aktualitasnya bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi, atau aspek kehidupan, yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Kota Anda mungkin mempunyai lembaga berharga yang sedang terancam ditutup karena kekurangan dana misalnya museum sejarah. Seorang wartawan bisa mengunjungi museum dan mengadakan tanya jawab dengan direkturnya mengenai krisis keuangan itu. Hasil wawancara itu bisa menjadi berita kecil yang berjudul Museum Sejarah Alam Menghadapi Lampu Merah.  Tapi, wawancara itu jeli melihat sudut lain sehingga berita kecil itu bisa dianggap penting, layak dimuat sebagai feature. Misalnya, ia tahu anak-anak kecil itu tertarik pada binatang yang di awetkan disana. Inilah tulisan reporter itu : "Pak Tupai melotot ke arah tangan anak yang mengelus-elus bulunya, tidak peduli pada cekikikan anak-anak yang tertawa kegirangan mengelilinginya. Pak Tupai tidak akan mungkin menerima tamu seperti itu lagi. Museum Se...

Subjektivitas

Beberapa feature ditulis dalam bentuk aku sehingga memungkinkan wartawan melibatkan emosi dan pikirannya sendiri. Keterlibatan emosional inilah yang memberikan pada feature aspek menyentuh hati pembaca, yang sangat jarang dicapai oleh sebuah tulisan berita biasa. Keterlibatan emosional itu juga yang memberi kemungkinan pada feature untuk nyaman dibaca . Wartawan biasanya menyukai petualangan dan pengalaman sambil mencari tema yang mungkin diangkat menjadi tulisan menarik, karena ditulis dalam bentuk aku misalnya, seorang wartawan mengunjungi satu negeri Eropa Timur, dekat setelah komunisme runtuh. Ia catat pengalamannya sejak mengurus visa. Ia ingat pula bagaimana perilaku petugas imigrasi negara itu ketika memeriksa paspornya. Dalam perjalanan, ia membuat catatan tentang berbagai bekal nya yang sepele, mulai dari sabun, sikat gigi, sampai kembang gula. Ia pun mendapatkan kesan betapa orang-orang di negeri itu ingin sekali berbicara pada orang asing, setelah sekian lama...

Kreativitas

Tidak seperti menulis berita biasa, menulis feature memungkinkan reporter menciptakan sebuah cerita. Memang, masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat, dan seterusnya sebab feature dengan segala kebebasannya tetaplah merupakan ragam tulisan jurnalistik bukan fiksi. Kreativitas seorang penulis feature bisa diuji dari kemampuannya mengembangkan sebuah berita biasa atau salah satu aspek berita biasa menjadi tulisan feature yang nyaman dibaca dan perlu. Dengan kata lain, dari suatu peristiwa atau keadaan seorang reporter bisa saja menggagas sebuah feature. Misalnya, seorang wartawan rubrik wanita selalu ditugasi menulis feature mengenai peringatan hari lahir R.A. Kartini tiap 21 April . Biasanya ia meliput dan menulis hal-hal rutin, seperti riwayat hidup istri kedua Bupati Rembang itu, mewawancarai beberapa tokoh wanita, mereportasekan kerepotan anak-anak perempuan merayakan hari lahir dan sebagainya. Tapi, suatu kali ia bosan dengan itu dan ingin mencari sudut lain . I...

Pada Mulanya Adalah Feature

Khayalkan diri Anda sebagai seorang wartawan. Dalam perjalanan Anda pastinya sering melihat anak-anak mengamen di persimpangan jalan di kota-kota besar dan terkadang pemandangan seperti itu membuat Anda tidak pernah peduli. Tapi, tiba-tiba suatu pandangan didalam bus kota yang Anda naiki, agak lain dari biasanya yang membuat Anda menarik notes. Mulai menulis. Tiga anak naik ke dalam bus, satu cacat ke dua tangan dan kakinya. Yang berseragam sekolah dasar membawa tas, bukan berisi buku melainkan rebana dan ketika rebana telah digantungkan dilehernya dan ditabuh, si cacat pun bernyayi, lagu POP. Anda sudah mulai melangkah untuk satu cerita feature . Beberapa halamannya berisi catatan baru, reportase dan hasil wawancara dengan di Buyung, nama dari si cacat tadi. Esoknya Anda mengusulkan cerita si Buyung pada redaktur yang memegang rubrik feature . "Saya punya cerita menarik" kata Anda. "Tentang tiga anak pengamen yang saling bekerja sama dan membagi nasib ...